Apa Itu IVF? Ini Penjelasan Lengkapnya!

Apa itu IVF/Program Bayi Tabung

In vitro fertilization (IVF) atau sering disebut juga program bayi tabung, adalah salah satu terobosan medis yang telah mengubah hidup ribuan pasangan yang berjuang untuk memiliki anak. 

Program IVF telah membuka pintu kebahagiaan bagi banyak pasangan yang menghadapi masalah kesuburan yang kompleks.

Apa Itu IVF atau Bayi Tabung?

Dilansir dari situs Cleveland Clinic, IVF merupakan salah satu jenis teknologi reproduksi berbantu di mana sperma dan sel telur dipertemukan di luar tubuh manusia. Di Indonesia, program ini disebut bayi tabung.

Secara umum, program bayi tabung melibatkan proses pengambilan sperma dan sel telur, kemudian mempertemukan keduanya secara manual di laboratorium. Setelah beberapa hari, sel telur yang sudah dibuahi telah menjadi embrio dan akan ditransfer ke dalam rahim ibu.

Ketika embrio sudah menempel pada dinding rahim, maka kehamilan telah terjadi dan embrio akan berkembang secara alami hingga menjadi bayi.

Program IVF umumnya dilakukan oleh pasangan yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan kehamilan secara alami. Metode ini akan dianjurkan dokter jika pasangan telah mencoba menjalani program hamil, seperti inseminasi buatan, tapi masih belum berhasil.

Siapa yang Perlu Melakukan Bayi Tabung?

Program bayi tabung menjadi pilihan bagi pasangan atau individu yang menghadapi berbagai masalah kesuburan, termasuk:

  • Mengalami gangguan ovulasi, sehingga sel telur sangat sedikit atau tidak diproduksi
  • Adanya masalah pada sperma, seperti jumlah sperma yang sedikit (oligospermia), motilitas buruk (asthenozoospermia), hingga bentuk & ukuran sperma tidak normal (teratospermia).
  • Kondisi sindrom polikistik ovarium (PCOS) atau endometriosis.
  • Terdapat gangguan pada tuba falopi, seperti adanya sumbatan atau pernah menjalani pengangkatan tuba falopi.
  • Adanya miom yang menyebabkan embrio sulit untuk menempel dan berkembang di dalam rahim.
  • Mengalami fibroid rahim, atau adanya daging yang tumbuh di dalam rahim.
  • Mengalami gangguan kesuburan lain yang sulit diidentifikasi.
  • Memiliki riwayat keguguran lebih dari satu kali.
  • Memiliki penyakit genetik, sehingga perlu dilakukan pemilihan embrio yang tidak mewarisi kelainan genetik tersebut.
  • Ingin melakukan pembekuan sel telur (egg freezing) atau pembekuan embrio (embryo freezing / cryopreservation), sehingga memiliki peluang untuk mendapatkan keturunan di masa depan.

Meski ada banyak alasan yang bisa membuat pasangan perlu menjalani program bayi tabung, namun ada beberapa kondisi yang membuat wanita tidak dianjurkan menjalani program hamil ini.

Beberapa di antaranya adalah jika wanita mengidap sindrom Marfan atau Eisenmenger, gagal jantung stadium lanjut, koarktasio aorta, atau hipertensi pulmonal.

Persiapan Sebelum Menjalani IVF

Konsulasi Fertilisasi IVF

Supaya proses IVF dapat berlangsung dengan lancar, ada beberapa persiapan yang bisa dilakukan terlebih dahulu, yaitu:

  1. Memilih fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan program bayi tabung. Anda juga bisa mencari referensi dari orang terdekat yang sudah pernah menjalani IVF.
  2. Mempersiapkan kondisi fisik yang optimal, dengan menjaga pola makan bergizi, memiliki berat badan ideal, menghindari alkohol dan rokok, serta rajin berolahraga.
  3. Melakukan berbagai pemeriksaan, seperti:
    • Pemeriksaan kualitas dan kondisi sperma.
    • Pemeriksaan dinding rahim dengan menggunakan USG atau histeroskopi.
    • Ovarian reserve testing, yang bertujuan untuk mengetahui kondisi sel telur, kadar follicle-stimulating hormone (FSH), anti-mullerian hormone (AMH), dan hormon estrogen.
    • Tes penyakit infeksi menular, seperti HIV, atau Hepatitis B.

Prosedur IVF / Bayi Tabung

Dalam menjalani IVF, prosedur yang akan dijalani adalah sebagai berikut:

  1. Induksi ovulasi untuk menstimulasi pelepasan sel telur, sehingga lebih banyak sel telur yang bisa diambil.
  2. Pengambilan sel telur untuk dianalisa kualitasnya dan kemudian dipersiapkan untuk dipertemukan dengan sperma.
  3. Pengambilan sperma untuk dianalisa kualitasnya dan dipersiapkan untuk menjalani proses pembuahan di laboratorium.
  4. Proses pembuahan yang dilakukan dengan mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium. Hal ini bisa dilakukan dengan mencampurkan sel telur dan sperma di tempat yang sama (inseminasi) atau dengan menyuntikkan sperma ke sel telur (ICSI dan IMSI).
  5. Perkembangan embrio akan dimonitor selama lima hingga enam hari setelah proses pembuahan terjadi.
  6. Pemeriksaan embrio dapat dilakukan untuk orang tua yang ingin melakukan pemeriksaan genetik pada embrionya. Pemeriksaan ini sering disebut sebagai pre-implantation genetic testing (PGT).
  7. Langkah terakhir adalah transfer embrio akan dilakukan dengan memasukkan embrio ke dalam rahim ibu. Metode ini dilakukan dengan embrio segar atau embrio beku.

Setelah prosedur di atas selesai dilakukan, pasien bisa beraktivitas biasa, namun sebaiknya hindari aktivitas berat. Pasangan bisa memeriksakan kehamilan setelah 12-14 hari.

Untuk penjelasan terkait prosedur bayi tabung lebih rinci, kunjungi artikel berikut ini “Prosedur IVF Lengkap, Persiapan sampai Kehamilan“.

Risiko dan Efek Samping Prosedur IVF

Sebelum menjalani program  IVF sebagai solusi untuk kesuburan, penting untuk memahami risiko dan efek samping yang mungkin terjadi. 

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) di mana ovarium membengkak dan sakit setelah distimulasi untuk merangsang produksi sel telur.
  • Kehamilan multipel, seperti kehamilan kembar dua atau kembar tiga (triplet).
  • Kehamilan ektopik, yaitu kehamilan yang terjadi di luar rahim.
  • Masalah kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR) pada bayi
  • Mengalami keguguran
  • Efek samping dari konsumsi obat selama program, seperti pusing maupun hot flushes
  • Stres karena program bayi tabung yang menghabiskan waktu dan uang.

Tingkat Keberhasilan Program Bayi Tabung

Mengenal Teknologi Reproduksi Berbantu untuk Membantu Meraih Kehamilan

Tingkat keberhasilan IVF dapat bervariasi dari kasus ke kasus. Namun, secara umum tingkat keberhasilannya bisa dikategorikan berdasarkan usia wanita sebagai berikut:

  • Usia di bawah 35 tahun memiliki tingkat keberhasilan rata-rata 43%
  • Usia 35 hingga 37 tahun memiliki tingkat keberhasilan rata-rata 36%
  • Usia 38 hingga 40 tahun memiliki tingkat keberhasilan rata-rata 27%
  • Usia di atas 40 tahun memiliki tingkat keberhasilan rata-rata 18%

Berikut adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan IVF, yaitu:

  • Usia wanita yang lebih muda memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi, terutama untuk wanita yang berusia di bawah 35 tahun.
  • Kualitas dan jumlah sel telur dan sperma
  • Masalah infertilitas yang mendasari
  • Kualitas embrio hasil dari pembuahan
  • Kondisi kesehatan dan gaya hidup pasangan

Tips Meningkatkan Peluang Keberhasilan IVF

Untuk meningkatkan peluang keberhasilan IVF, Anda bisa mempertimbangkan tips berikut:

  • Membangun pola makan yang penuh gizi dengan memakan makanan sehat yang kaya akan nutrisi.
  • Kelola stres dan hindari kelelahan
  • Terapkan gaya hidup sehat dan rutin berolahraga

Baca Juga: Gamete Intrafallopian Transfer (GIFT): Definisi & Prosedur

Selain itu, Anda juga perlu mengikuti arahan dokter selama program berlangsung. Berkonsultasilah dengan dokter yang ahli dibidang ini agar bisa mendapatkan informasi lengkap mengenai prosedur ini.

Jika Anda tertarik dengan pembahasan dr. Ivan Sini seputar kesuburan dan kehamilan lebih lanjut, jangan lupa cek artikel lainnya serta follow dan subscribe TikTok, Instagram dan Youtube dr. Ivan Sini ya!

 

Sumber:

Cleveland Clinic, diakses pada Oktober 2023, IVF (In Vitro Fertilization)

Mayo Clinic, diakses pada Oktober 2023, In Vitro Fertilization (IVF)

Recent Posts

Tips Menghidari Serangan GERD

Tips Mencegah Serangan GERD Kambuh

Pada artikel sebelumnya, kita sudah banyak membahas tentang pengalaman pasien GERD, penyebab hingga gejalanya. Kali ini, kita akan membahas tentang apa saja tips untuk mencegah serangan GERD kambuh berdasarkan pengalaman…
Read more >
Bisakah Mengelola GERD dalam Kehidupan Aktif

Bisakah Mengelola GERD dalam Kehidupan Aktif?

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), sering kali dianggap sebagai halangan untuk orang yang ingin menjalani gaya hidup aktif. Namun, bagi Bu Nita, anggapan tersebut tidak berlaku. Di tengah kesibukan dan kecintaannya…
Read more >