Azoospermia Obstruktif & Non-Obstruktif, Cegah & Obati

Azoospermia Obstruktif & Non-Obstruktif, Cegah & Obati

Sulit mempunyai keturunan tidak selalu dipengaruhi oleh kesuburan wanita. Pada beberapa kasus, pria yang mengidap azoospermia juga menjadi masalah infertilitas.

Penyakit azoospermia bisa dibilang cukup umum, karena sekitar 1 dari 10 kasus kemandulan pada pria disebabkan oleh masalah ini.

Tetapi apakah Anda sudah tahu apa gejala dari penyakit ini?

Pada artikel kali ini kita akan membahas apa itu azoospermia, jenis, gejala, cara mengobati hingga cara mencegahnya.

Baca Juga: Mengenal Teknologi Reproduksi Berbantu dan Jenisnya

Pengertian Azoospermia

Dilansir dari Cleveland Clinic, Azoospermia merupakan kondisi dimana air mani yang keluar saat ejakulasi tidak mengandung sperma sama sekali.

Meski tergolong sebagai masalah yang umum, masalah ini tetap membuat banyak pria menjadi tidak percaya diri karena sulit mendapatkan keturunan.

Sel sperma dihasilkan oleh organ testis yang kemudian berkembang di dalam tubulus seminiferus, yaitu sebuah tabung kecil di dalam organ reproduksi pria.

Penyebab dari masalah ini bisa dikarenakan pola hidup, penyakit atau bawaan genetik.

Jenis-jenis Azoospermia Berdasarkan Penyebab

Selain mengetahui sekilas tentang masalah ini, ketahui pula bahwa terdapat dua jenis yang dibedakan berdasarkan penyebabnya, yaitu obstruktif dan non-obstruktif.

Pahami perbedaan dari keduanya di bawah ini:

1. Azoospermia Obstruktif

Pada azoospermia obstruktif, masalah terjadi akibat saluran reproduksi yang tersumbat atau bermasalah.

Sejumlah faktor yang menyebabkan penyumbatan ini salah satunya yaitu epididimis atau penyumbatan pada vas deferens.

Ketika saluran vas deferens tersumbat, sel sperma tidak bisa keluar dengan normal. Bahkan beberapa pria mendapati kasus tidak memiliki vas deferens.

Ada juga masalah ejakulasi retrograde yang menyebabkan air mani keluar dari saluran kandung kemih.

Jenis masalah ini biasanya disebabkan oleh bawaan lahir atau genetik.

Gen CFTR (cystic fibrosis transmembrane conductance regulator) adalah gen yang menyebabkan masalah ini.

2. Azoospermia non-Obstruktif

Sedangkan jenis yang kedua disebabkan oleh gangguan pada produksi sperma.

Ketika mengidap masalah ini, pria tidak mampu menghasilkan sperma melalui testis.

Selain itu, masalah ini juga bisa disebabkan oleh gangguan hormon.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan masalah ini terjadi, yaitu karena adanya tumor, kanker testis, varikokel, efek samping obat, kondisi medis tertentu, atau kelainan genetik.

Gejala Azoospermia

Langkah paling penting dari mengobati masalah ini adalah mengidentifikasi gejalanya terlebih dulu.

Beberapa gejala umum yang dapat terjadi adalah:

  • Air mani yang keluar sedikit.
  • Area di sekitar testis bengkak.
  • Disfungsi ereksi.
  • Hormon testosteron rendah, sehingga berujung pada gairah seks yang rendah pula.
  • Muncul rasa tidak nyaman pada testis.
  • Pertumbuhan rambut di tubuh atau wajah berkurang.
  • Rasa sakit saat buang air kecil.
  • Sering merasa nyeri pinggul.
  • Sulit mendapatkan kehamilan meski sudah berhubungan seks selama kurang lebih 1 tahun.

Jika Anda atau pasangan merasa mengalami gejala tersebut, langkah selanjutnya adalah memeriksakan diri ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Cara Pengobatan Azoospermia

Pengobatan akan diberikan sesuai dengan kondisi dan penyebab Azoospermia pada diri Anda.

Berikut adalah sejumlah pengobatan yang biasa diberikan:

1. Obat Infeksi

Dokter akan melakukan pemeriksaan kondisi testis terlebih dulu.

Apabila terdeteksi adanya infeksi pada area testis atau organ lain yang berperan dengan fertilitas, biasanya dokter akan memberikan obat infeksi terlebih dulu.

Infeksi yang dibiarkan berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan yang lebih buruk pada sistem reproduksi pria.

2. Operasi

Pengobatan yang paling ampuh untuk mengatasi masalah ini adalah melalui operasi.

Nantinya operasi dilakukan melalui sayatan kecil atau besar, tergantung dari tingkat keseriusan masalah.

Beberapa operasi yang khusus menangani masalah ini di antaranya:

  • MicroTESE: Operasi ini dilakukan melalui sayatan kecil pada testis untuk dilakukan pengambilan sperma yang nantinya digunakan untuk bayi tabung.
  • TURED: Operasi ini membuat sayatan besar untuk membuka penyumbatan pada saluran reproduksi pria. Prosedur ini membutuhkan bantuan kamera agar sperma dapat bergabung kembali dengan air mani.
  • Koreksi Bekas Luka: Operasi ini mengatasi penyumbatan yang disebabkan oleh PMS (penyakit menular seksual).

3. Vasektomi Reversal

Pengobatan yang kedua dilakukan untuk membuka saluran vas deferens yang menjadi jalan agar sperma dapat mencapai air mani.

Akan tetapi prosedur ini dilakukan pada pria yang sebelumnya telah menjalani vasektomi.

4. Varikokelektomi

Varikokel adalah kondisi ketika pembuluh darah pada skrotum membengkak dan menyebabkan gangguan produksi sperma.

Dengan prosedur ini, nantinya dokter akan mengikat pembuluh vena penyebab masalah.

5. Terapi Hormon

Ada cara mengobati azoospermia yang tidak membutuhkan operasi, yaitu dengan melakukan terapi hormon.

Metode ini dilakukan untuk meningkatkan hormon testosteron dalam tubuh yang berperan penting dalam produksi sperma.

Harapannya sperma mengalami peningkatan dari segi jumlah dan kualitas.

6. Manajemen Stres

Selain menerapkan pengobatan medis, Anda bisa memulai dengan langkah yang sederhana, seperti melakukan manajemen stres.

Hormon penyebab stres membuat penurunan pada kadar hormon testosteron.

Alhasil testis tidak mampu memproduksi sel sperma dalam jumlah yang dibutuhkan.

Di samping mengatur manajemen stres, Anda juga disarankan untuk rajin berolahraga, perbanyak minum air putih, istirahat yang banyak dan mengatur pola makan yang sehat.

Baca Juga: Metode Pengambilan Sperma IVF: MESA, PESA, TESA, TESE

Cara Mencegah Azoospermia

Ketika Anda tidak mengalami masalah ini, tentu penting sekali untuk melakukan pencegahan dini.

Terapkan upaya-upaya berikut ini untuk mencegah azoospermia:

  • Tidak mengonsumsi minuman keras.
  • Tidak merokok.
  • Menjauhkan testis dari paparan radiasi, misalnya panas laptop, sauna, mandi uap dan sumber panas lainnya.
  • Mengatur pola hidup yang sehat.
  • Kurangi hal-hal yang menyebabkan stres.
  • Menghindari aktivitas yang menyebabkan organ reproduksi terluka.
  • Berolahraga dengan rutin untuk menjaga berat badan.

Dengan mengenali pencegahan azoospermia, diharapkan membantu Anda menghindari hal-hal yang menyebabkan masalah pada testis atau produksi sperma.

Masalah kesuburan merupakan hal yang banyak dialami oleh pasangan yang ingin memperoleh keturunan.

Meski demikian, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami masalah kesuburan.

Jika Anda tertarik dengan pembahasan dr. Ivan Sini seputar kesuburan dan kehamilan lebih lanjut, jangan lupa cek artikel lainnya serta follow dan subscribe TikTokInstagram dan Youtube dr. Ivan Sini ya!

Recent Posts

Peran Genomik dalam Pemeriksaan DNA Forensik

Peran Genomik dalam Pemeriksaan DNA Forensik

Anda pernah menonton serial Crime Scene Investigation (CSI)? CSI bercerita tentang cara tim forensik dari Las Vegas untuk membongkar kasus kriminal hingga kematian yang tidak wajar. Apakah genomik bisa membantu…
Read more >