Mengenal Transfer Embrio Beku dan Persiapannya

Mengenal Transfer Embrio Beku dan Persiapannya

Transfer embrio beku atau Frozen Embryo Transfer (FET) merupakan sebuah proses transfer embrio yang telah dibekukan ke rahim ibu dalam program bayi tabung. Program ini melakukan proses pembentukkan embrio di luar tubuh.

Embrio yang dikembangkan ini kemudian dibekukan agar bisa digunakan pada waktu yang ditentukan. Sebelum ditransfer ke calon ibu, embrio ini dicairkan lebih dulu. Kemudian setelah semua persiapan selesai dilakukan, proses transfer embrio bisa dilaksanakan.

Frozen embryo transfer merupakan prosedur yang sering dipilih dalam program IVF karena memungkinkan pasangan untuk melakukan pemeriksaan genetik pada embrio yang disebut Preimplantation Genetic Testing (PGT).

Persiapan Sebelum Transfer Embrio Beku

Ada banyak persiapan yang perlu dilakukan sebelum menjalani proses transfer embrio. Berikut penjelasan rincinya:

1. Pemeriksaan Rahim dan Ovarium

Pemeriksaan rahim dan ovarium amatlah penting untuk melihat kesiapan rahim calon ibu. Termasuk juga melakukan pemeriksaan kondisi serviks dan cek hormon melalui sampel darah untuk melihat berapa banyak sel telur yang kondisinya sudah dalam tahap perkembangan lanjutan.

2. Pemeriksaan Penyakit Menular

Selain pemeriksaan rahim dan ovarium, calon ibu juga diminta untuk melakukan pemeriksaan penyakit menular. Tujuannya adalah untuk membuat calon ibu dalam keadaan yang benar-benar sehat agar siap menjalani transfer embrio beku dan siap untuk kehamilan.

3. Pemeriksaan Kualitas Sperma

Pemeriksaan kualitas sperma juga penting sebagai pemeriksaan kesuburan sebelum menjalani program bayi tabung. Dokter akan memeriksa air mani calon ayah untuk mengetahui kualitas dan jumlah spermanya.

Sebelum memeriksa sperma, ada beberapa metode pengambilan sperma yang bisa diterapkan sesuai dengan kondisi pasien.

4. Minum Obat Dokter

Sebelum menjalani proses transfer embrio beku biasanya dokter akan memberikan obat kesuburan, progesteron, dan lainnya. Tujuannya adalah mempersiapkan rahim sebelum menjalani transfer embrio dan mengalami kehamilan.

5. Pola Hidup Sehat

Calon ibu juga diminta untuk menjalani pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, menjaga suhu tubuh dan menghindari suhu ekstrem di daerah perut. Oleh karena itu, sebaiknya  tidak berendam di air panas, sauna, angkat benda berat dan lainnya.

Kemudian, calon ibu juga diminta untuk menjaga pola tidur yang cukup, tidak beraktivitas fisik yang terlalu berat, dan menghindari bahan kimia dan alkohol, seperti cat kuku, kosmetik wangi, dan berbagai bahan kimia lainnya.

6. Persiapan Mental

Selain persiapan fisik, ternyata kondisi mental juga sangat perlu dipersiapkan. Calon ibu sebaiknya menjaga diri agar tidak stres, berpikiran positif, dan juga menyadari bahwa terkadang program ini bisa juga tidak berhasil.

Mental yang kuat akan bisa membuat calon ibu lebih tenang dalam menjalani semua prosesnya.

Prosedur Pelaksanaan

Proses transfer embrio sebenarnya tidak memakan waktu lama dan tidak perlu pembiusan (anestesi). Yang dirasakan mungkin sedikit rasa kurang nyaman seperti pada pemeriksaan pap smear. Tahapan prosesnya adalah sebagai berikut:

  • Calon ibu akan diminta minum air untuk mengisi kandung kemih. Dengan begitu, posisi rahim akan lebih mudah terlihat.
  • Kemudian, calon ibu akan diminta berbaring di tempat pemeriksaan dokter.
  • Dokter akan menyiapkan embrio beku yang sudah dicairkan.
  • Kemudian embrio tersebut diletakkan ke dalam kateter khusus. Kateter tersebut akan dimasukkan ke dalam rahim calon ibu melalui vagina dan serviks.
  • Dengan bantuan kateter, embrio tersebut akan diletakkan dengan hati-hati agar bisa menempel di dinding rahim.
  • Setelah itu kateter akan dikeluarkan kembali
  • Calon ibu akan diminta tetap berbaring sekitar 30 menit atau lebih dan proses transfer embrio telah selesai.

Pelaksanaan transfer embrio ini akan ditentukan oleh dokter pada waktu yang tepat sesuai dengan kondisi calon ibu. Misalnya kondisi bagian dalam rahim (endometrium) telah pulih dari pengaruh stimulasi ovarium atau ovarium hyperstimulation syndrome (OHSS) dalam proses in vitro fertilization (IVF).

Baca Juga: Inseminasi Buatan/Intrauterin (IUI): Penjelasan Lengkap

Perawatan Pasca Transfer Embrio Beku

Setelah proses transfer di atas selesai dilakukan, calon ibu disarankan untuk beristirahat di rumah paling tidak selama dua atau tiga hari. Karena biasanya proses embrio menempel pada dinding rahim bisa memakan waktu sekitar 72 jam.

Pada masa ini, sebaiknya ibu menghindari hal-hal berikut ini:

  • Mengangkat beban berat
  • Berendam di air panas
  • Berhubungan seksual
  • Melakukan olahraga berat, terutama yang membebani perut
  • Tetap menjaga kesehatan fisik dan mental agar selalu stabil.

Pemeriksaan kehamilan biasanya dilakukan pada hari ke-12 hingga ke-17 setelah proses transfer embrio dilakukan. Jika memang kehamilan terjadi, maka perawatan kehamilan akan berjalan seperti biasanya.

Berapa Tingkat Keberhasilan Transfer Embrio Beku?

Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi tingkat keberhasilan program bayi tabung (IVF) dengan menggunakan embrio beku. Berikut penjelasannya:

1. Kondisi Kesehatan Calon Ibu

Kesehatan umum calon ibu akan memegang peranan penting dalam keberhasilan program bayi tabung.

Contohnya saja seperti berat badan seimbang, tidak mengonsumsi alkohol, tidak merokok, dan tidak memiliki penyakit menular atau penyakit berat lainnya. Selain itu, kesehatan atau kondisi rahim calon ibu juga sangat mempengaruhi keberhasilan prosedur ini.

Terkadang calon ibu perlu menjalani berbagai terapi atau pengobatan dari dokter sebelum rahimnya siap untuk program bayi tabung.

2. Usia Calon Ibu

Tidak dipungkiri bahwa usia bisa mempengaruhi tingkat kesuksesan program bayi tabung. Calon ibu yang usianya masih muda memang memiliki keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan yang lebih tua usianya.

3. Kualitas Embrio

Embrio yang kualitasnya bagus dan telah melewati proses kriopreservasi (pembekuan) yang baik biasanya memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.

4. Sejarah Kegagalan Sebelumnya

Jika calon ibu pernah gagal dalam program sebelumnya, maka riwayat ini setidaknya bisa mempengaruhi keberhasilan. Karena itu biasanya calon ibu ini akan dievaluasi dan dokter akan melakukan penyesuaian dan rencana perawatan agar bisa siap untuk program berikutnya.

Baca Juga: Apa Itu Metode ICSI dan IMSI dalam Bayi Tabung?

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Seputar Frozen Embryo Transfer

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang kerap ditanyakan berkaitan dengan program bayi tabung dan transfer embrio beku.

1. Bagaimana cara menyimpan embrio?

Embrio akan disimpan dengan cara dibekukan di dalam freezer khusus dengan menggunakan nitrogen cair yang suhunya minus 200 derajat Celcius. Saat akan digunakan, embrio akan dikeluarkan dari freezer dan dicairkan dulu selama sekitar 40-60 menit sebelum siap ditanamkan di dalam rahim.

2. Berapa lama embrio bisa disimpan?

Embrio yang dibekukan dengan benar akan tahan selama bertahun-tahun. Sejarah mencatat bahwa ada seorang wanita bisa hamil dan melahirkan anak yang normal dari embrio yang sudah disimpan selama 24 tahun.

3. Berapa banyak embrio beku yang ditanamkan ke rahim dalam satu siklus?

Umumnya dokter hanya akan menanamkan satu embrio (single embryo transfer / SET). Namun bisa juga dua embrio, tergantung kondisi dan kesepakatan dengan pasangan yang melakukan program IVF.

Meski demikian, perlu diingat bahwa penanaman lebih dari satu embrio bisa meningkatkan peluang terjadinya kehamilan kembar.

4. Apa yang terjadi dengan embrio yang tersisa?

Tergantung keinginan pasangan yang mengikuti program IVF. Sisa embrio bisa terus dibekukan jika masih ingin mencoba lagi setelah keberhasilan atau kegagalan pertama. Namun jika tidak ingin digunakan lagi, ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan.

Banyak pasangan yang memutuskan untuk membuangnya dengan tindakan medis dan etika yang berlaku. Ada juga yang bersedia mendonorkannya untuk pasangan lain yang membutuhkan. Ada juga yang digunakan sebagai riset.

Transfer embrio beku dalam program IVF atau bayi tabung harus dilakukan oleh dokter yang ahli di bidang teknologi reproduksi berbantu. Hal ini penting agar Anda mendapatkan solusi terbaik dan paling sesuai untuk kondisi kesehatan Anda dan pasangan.

Jika Anda tertarik dengan pembahasan dr. Ivan Sini seputar kesuburan dan kehamilan lebih lanjut, jangan lupa cek artikel lainnya serta follow dan subscribe TikTok, Instagram dan Youtube dr. Ivan Sini ya!

Recent Posts