Metode Pengambilan Sperma IVF: MESA, PESA, TESA, TESE

Metode Pengambilan Sperma IVF MESA, PESA, TESA, TESE

Tidak semua kesulitan hamil disebabkan dari sisi wanita. Terkadang, kualitas sperma menjadi penyebab kesulitan kehamilan tersebut. Namun, kini ada beberapa metode pengambilan sperma yang dapat menjadi solusi.

Sebagai langkah awal, dokter akan menganalisa gangguan pada sperma yang dialami. Dengan begitu, dokter bisa menentukan jenis pengambilan sperma yang sesuai untuk kondisi Anda.

Lalu, apa saja jenis pengambilan sperma yang ada? Kapan prosedur ini perlu dilakukan? Apakah ada efek sampingnya?

Yuk langsung kita bahas!

Baca Juga: Apa Itu Metode ICSI dan IMSI dalam Bayi Tabung?

Apa Itu Pengambilan Sperma?

Dilansir dari Hopkins Medicine, pengambilan sperma merupakan prosedur untuk menemukan dan mengambil sperma langsung dari testis atau epididimis. Hal ini berbeda dengan biopsi testis yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah pasda testis.

Prosedur ini dilakukan pada pria yang memiliki kondisi tidak adanya sperma yang keluar saat ejakulasi. Umumnya hal ini terjadi karena ada penyumbatan atau ada masalah dalam produksi sperma.

Jenis Pengambilan Sperma (TESA, MESA, PESA, TESE)

Salah satu cara untuk mengatasi infertilitas adalah dengan mengambil sperma langsung. Terdapat 5 jenis metode yang dikenal dalam dunia medis, yaitu TESA, MESA, PESA, TESE dan MicroTESE.

Kenali perbedaannya masing-masing di bawah ini:

1. Testicular Sperm Aspiration (TESA)

Prosedur ini merupakan prosedur yang paling sederhana. Prosesnya dapat dilakukan di kamar operasi atau ruang rawat jalan. Biasanya prosedur ini diterapkan pada pria dengan azoospermia obstruktif, contohnya pada pria yang mendapatkan vasektomi.

Selama prosedur berjalan hanya memerlukan anastesi umum atau bius lokal. Pengambilannya dilakukan dengan memasukkan jarum khusus ke dalam testis, lalu menyedot sperma atau aspirasi.

Waktu pengambilannya dilakukan pada saat pengambilan sel telur dari wanita. Pada beberapa kasus, prosedur ini dinilai kurang optimal dan masih membutuhkan biopsi testis terbuka.

2. Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration (MESA)

Daripada prosedur sebelumnya, prosedur ini lebih efektif dalam mengumpulkan sperma. Kebanyakan yang mendapatkan prosedur ini merupakan pria-pria yang tidak memiliki vas deferens sejak lahir. Proses pengambilan harus dilakukan di kamar operasi yang steril.

Pasalnya dokter akan melakukan bius total, lalu membuat sayatan kecil pada kulit skrotum pria. Setelahnya baru memeriksa lebih dekat menggunakan mikroskop khusus. Cairan dari epididimis akan diperiksa untuk melihat apakah ada sperma yang bergerak.

Jika berhasil ditemukan ada sperma yang hidup, maka cairan tersebut kemudian diambil dan dibekukan untuk penggunaan nanti. Prosedur ini dapat dijadwalkan pada waktu bersamaan dengan waktu pengambilan sel telur wanita.

3. Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration (PESA)

Prosedur ini lebih cepat, namun sperma yang diambil lebih sedikit. Kebanyakan pria yang menjalani prosedur ini adalah pria yang sudah menjalankan vasektomi atau terkena infeksi, sehingga memiliki azoospermia obstruktif.

Sama halnya dengan TESA, prosedur ini menggunakan jarum khusus untuk pengambilan sperma. Namun organ yang ditargetkan adalah epididimis, barulah dilakukan aspirasi atau penyedotan sperma. Bius yang digunakan untuk prosedur ini hanya bius lokal.

4. Testicular Sperm Extraction (TESE)

TESE selalu dilakukan di kamar operasi dan menggunakan obat tidur atau sedasi. Tetapi terkadang dilakukan di ruang rawat jalan menggunakan bius lokal.

Dokter bedah akan membuat sayatan kecil pada testis, lalu mencari keberadaan sperma pada tubulus seminiferus. Apabila menemukan adanya sperma yang bergerak, cairan akan diambil dan dibekukan seperti prosedur MESA.

5. Microsurgical TESE (MicroTESE)

Prosedur ini cukup disukai oleh kebanyakan pria yang mengalami masalah reproduksi. MicroTSE juga lebih dipilih ketimbang TESE. Pasalnya prosedur ini disebut paling optimal. Biasanya prosedur dilakukan di kamar operasi dengan bius.

MicroTESE mampu mendapatkan lebih banyak sperma karena menggunakan mikroskop khusus untuk mencari sperma. Mengingat hanya sebagian kecil jaringan testis yang diambil, cara ini dinilai lebih aman dan risiko perdarahan testis lebih rendah.

Sama seperti prosedur yang lain, sperma yang ditemukan akan disimpan untuk beberapa hari ke depan menggunakan metode kriopreservasi.

Kapan Pengambilan Sperma Dilakukan?

Khusus untuk prosedur yang sederhana seperti TESE, TESA, MESA dan PESA, waktu pengambilan dilakukan pada hari yang sama dengan pengambilan sel telur. Namun pengambilan dapat dilakukan 1 hari sebelum pengambilan sel telur apabila menggunakan prosedur MicroTESE.

Masing-masing prosedur membutuhkan waktu yang berkisar dari hitungan menit sampai jam, tergantung dari seberapa sulit menemukan sperma yang hidup.

Persiapan sebelum Pengambilan Sperma

Jika Anda hendak menjalankan prosedur ini dalam waktu dekat, ada baiknya menyiapkan diri terlebih dulu. Sebelum sperma diambil, kesuburan pasangan pria dan wanita akan dievaluasi terlebih dulu.

Pemeriksaan dan analisis semen akan dilakukan melalui proses pemeriksaan fisik, wawancara medis hingga pemeriksaan laboratorium lanjutan.

Pada beberapa kasus, dokter akan melakukan biopsi testis, yaitu prosedur pengambilan jaringan testis untuk memeriksa apakah terdapat gangguan produksi sperma atau azoospermia.

Setelahnya dokter akan meninjau kembali hasil analisis dan memberikan prosedur yang sesuai dengan kondisi masalah.

Baca Juga: Mengenal Teknologi Reproduksi Berbantu dan Jenisnya

Efek Samping Pengambilan Sperma

Setiap tindakan medis umumnya memiliki efek samping walaupun sangat jarang terjadi. Oleh karena itu, dokter perlu memberi penjelasan terkait risiko yang mungkin akan di alami sebelum melakukan tindakan.

Untuk prosedur pengambilan sperma, ada beberapa efek samping yang dapat terjadi, yaitu:

  • Testis cedera
  • Infeksi
  • Prosedur gagal akibat tidak berhasil mengambil sperma
  • Nyeri
  • Pendarahan

Dari berbagai metode di atas, MicroTESE merupakan metode yang memiliki risiko paling rendah sehingga paling banyak dipilih.

Cara Meningkatkan Kualitas Sperma Sebelum Pengambilan

Kualitas sperma yang baik merupakan kunci keberhasilan kehamilan. Oleh karenanya, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kualitas sperma:

1. Menambah Suplemen D-aspartic acid (D-AA)

Suplemen D-AA adalah suplemen yang khusus diracik untuk meningkatkan kadar testosteron alias hormon seks pria yang membantu produksi sperma. Suplemen ini terbuat dari asam amino.

2. Menerapkan Pola Hidup Sehat

Penting sekali menerapkan pola hidup sehat untuk menjaga kualitas sperma. Adapun yang dimaksud dengan pola hidup sehat di antaranya seperti:

  • Tidak berganti-ganti pasangan untuk menghindari penyakit seksual menular.
  • Menggunakan pakaian dalam yang tidak ketat.
  • Menjaga berat badan agar ideal.
  • Berolahraga secara rutin untuk meningkatkan kadar testosteron.
  • Tidak menggunakan narkoba, konsumsi alkohol atau merokok.
  • Kurangi mengonsumsi makanan cepat saji.
  • Hindari meletakkan laptop di pangkuan karena suhu panas laptop menyebabkan produksi sperma melambat.
  • Kurangi asupan gula atau lemak jenuh yang menyebabkan penurunan kualitas sperma.

3. Mengonsumsi Makanan Tinggi Karbohidrat Kompleks

Contoh makanan yang bagus untuk meningkatkan kesehatan sperma adalah beras merah, kentang, gandum, sereal alami. Tak lupa imbangi dengan daging tanpa lemak, telur, dan ikan omega-3 untuk membantu pembentukan sperma.

4. Meningkatkan Asupan Vitamin D dan Zinc

Dua vitamin yang penting dalam hal ini adalah zinc dan vitamin D. Keduanya berfungsi memperbaiki pergerakan sperma serta meningkatkan jumlahnya.

Contoh makanan yang mengandung keduanya adalah ikan, daging merah, produk olahan susu, kuning telur, kerang hingga sinar matahari.

Baca Juga: Inseminasi Buatan/Intrauterin (IUI): Penjelasan Lengkap

Lakukan Pengambilan Sperma Sesuai dengan Kondisi Kesehatan

Bagi pasangan yang sedang mengalami masalah kehamilan walaupun sudah menerapkan pola hidup sehat, sangat disarankan berkonsultasi langsung dengan dokter kandungan.

Dokter akan menganalisa masalah kesehatan yang Anda alami, dan menyarankan tindakan yang sesuai dengan kondisi Anda. Jika masalahnya ada di sperma, dokter bisa menyarankan Anda untuk menjalani pengambilan sperma.

Jika Anda tertarik dengan pembahasan dr. Ivan Sini seputar kesuburan dan kehamilan lebih lanjut, jangan lupa cek artikel lainnya serta follow dan subscribe TikTok, Instagram dan Youtube dr. Ivan Sini ya!

 

Sumber:

Hopkins Medicine, diakses pada Oktober 2023, Sperm Retrieval Procedures

Recent Posts

Tips Menghidari Serangan GERD

Tips Mencegah Serangan GERD Kambuh

Pada artikel sebelumnya, kita sudah banyak membahas tentang pengalaman pasien GERD, penyebab hingga gejalanya. Kali ini, kita akan membahas tentang apa saja tips untuk mencegah serangan GERD kambuh berdasarkan pengalaman…
Read more >
Bisakah Mengelola GERD dalam Kehidupan Aktif

Bisakah Mengelola GERD dalam Kehidupan Aktif?

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), sering kali dianggap sebagai halangan untuk orang yang ingin menjalani gaya hidup aktif. Namun, bagi Bu Nita, anggapan tersebut tidak berlaku. Di tengah kesibukan dan kecintaannya…
Read more >