Obesitas dan Siklus Menstruasi

Obesitas dan Siklus Menstruasi

Berat badan yang berlebih atau yang kerap kali disebut dengan obesitas dapat terjadi akibat tidak seimbangnya jumlah energi atau kalori yang masuk dibandingkan jumlah kalori yang dipakai. Obesitas bisa dialami oleh siapa saja, baik wanita maupun pria. Akan tetapi, dampak yang dihasilkan oleh obesitas pada penderita kaum hawa memiliki dampak yang lebih besar. Masalah obesitas jika tidak segera ditangani dapat merambat menjadi gangguan kesehatan tubuh lainnya. Salah satu masalah utama yang menyebabkan terjadinya obesitas adalah gangguan terhadap metabolisme tubuh.

Sudah dapat dipastikan bahwa terdapat perbadaan metabolisme antara penderita obesitas dengan orang yang memiliki berat badan normal. Pada penderita obesitas, metabolisme tubuh menjadi abnormal. Hal ini juga yang menyebabkan terjadinya resistensi insulin pada penderita obesitas. Resistensi insulin adalah kondisi dimana tubuh bersifat resisten atau menolak terhadap insulin yang bekerja mengontrol kadar gula dalam darah untuk tetap berada pada batas normal.

Dampak yang ditumbulkan adalah insulin tidak dapat bekerja secara maksimal dalam mengontrol kadar glukosa, mengakibatkan terjadinya penumpukkan glukosa dalam darah secara terus menerus, serta kadar insulin yang tinggi hasil dari sekresi pankreas akibat tingginya kadar gula dalam darah.

Selain itu, pada wanita dampak yang dihasilkan dari masalah obesitas akibat kadar insulin yang tinggi adalah terganggunya sistem reproduksi wanita. Kondisi dimana kadar hormone esterogen dan androgen pada wanita menjadi tidak seimbang. Dalam dunia medis dikenal dengan polycystic ovary syndrome ( PCOS ). Sindroma ovarium polikistik adalah sekelompok masalah gangguan kesehatan akibat gangguan keseimbangan hormonal.

Sindrom ini mengakibatkan  terganggunya fungsi ovarium seperti munculnya kista kecil-kecil pada ovarium yang bisa menyebabkan anovulasi, terganggunya siklus menstruasi , dan juga sulit untuk hamil. Terganggunya siklus menstruasi akibat obesitas disini meliputi siklus menstruasi yang tidak teratur ( oligomenorrhea ), jumlahnya berlebihan ( menorrhagia ), ataupun tidak keluar menstruasi sama sekali ( amenorrhea ).

Kondisi obesitas sebenarnya dapat segera diobati dan tidak membutuhkan pengobatan yang serius. Terutama bagi kaum hawa yang mengalami obesitas serta ingin mencegah terjadinya polycystic ovary syndrome ( PCOS ). Menurunkan berat badan dan menjadikannya pada berat yang ideal menjadi kunci utama menghindari resiko penyakit yang dihasilkan oleh obesitas.

Secara umum, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan olah raga rutin. Gerakan – gerakan ringan atau olahraga ringan untuk membakar kalori dan energi yang masuk ke dalam tubuh agar tidak terjadi penumpukan kalori yang berlebihan dalam tubuh.

Kedua, memilih makanan yang seimbang, termasuk sayuran, buah-buahan, gandum dan produk olahan susu rendah lemak. Perbanyak jumlah asupan protein, air, serat, serta mengurangi asupan yang mengandung banyak lemak dan pati.  Dengan menghindari lemak dan pati tersebut, mampu menekan jumlah glukosa, menekan kadar insulin dalam tubuh, serta menekan rasa lapar.

Istirahat atau tidur yang cukup. Dengan memiliki kebiasaan waktu tidur yang cukup, dapat mengontrol dan menurunkan produksi kortisol. Fungsi dari kortisol adalah meningkatkan kadar glukosa dalam tubuh. Sehingga jika tubuh terlalu banyak memproduksi kortisol maka dapat memperburuk kondisi resistensi insulin.

Dan yang terakhir jangan merokok karena merokok akan meningkatkan hormon Androgen.

Bila tidak ada perubahan maka bisa juga mengkonsumsi obat-obat untuk menyeimbangkan kadar hormonal yang bisa diresepkan oleh dokter Anda.

Written by: dr. Ivan Sini, SpOG

Recent Posts